-->

Cerbung BIRU. Baper Cerita Anak Sma Seru dan Original


BIRU

Chapter One

Sekolah adalah tempat yang akan selalu menjadi tempat paling berkesan dan tempat bersosialisasi paling menyenangkan bagi para remaja termasuk aku, kami mengenal banyak hal disana, bagaimana belajar berkawan dan menjalin persahabatan.  Tak hanya sekedar itu, sebagian besar dari para remaja berkata bahwa masa-masa di sekolah lah mereka bertemu dengan kisah asmara. Tak terkecuali para guru, seperti Mr. Hen dan Miss Ina yang digosipkan juga tengah terjebak dalam kisah asmara di sekolah ini, cinta lokasi katanya.

Sudah dua kali aku mengelilingi lapangan ini, mataku jeli sambil sesekali menunduk untuk memastikan itu semut hitam atau bukan. Cuaca siang ini sama sekali tidak bersahabat, panas sekali. keringat mengucur deras di tubuhku, aku menyeka keringat dan menyampingkan anak rambut yang menghalangi pandangan mataku.

Rambutku di kepang dua, diikat dengan dua warna pita yang berbeda, hijau dan jingga, norak. Kartu identitas terbuat dari karton berwarna ungu menggantung dileherku, disana tertulis nama, alamat, tempat tanggal lahir, dan berbagai data diri mengenai aku. Ikat pinggang warna merah muda, kaos kaki panjang berwarna jingga dan berbagai macam aksesoris menyebalkan lainnya.

Hari ini adalah hari kedua dari Masa Orientasi Siswa SMA tempatku bersekolah, masa yang sangat ditunggu oleh para senior di sekolahku sebagai ajang mengerjai adik-adik kelasnya, aku tahu ini karena setahun yang lalu tepatnya saat SMP aku juga menjadi Osis disini. Selain karena disuruh mencari semut hitam sebanyak 11 ekor dan mengumpulkannya dalam keadaan hidup, para senior itu juga seenak jidatnya menyuruh semua peserta MOS melakukan hal-hal konyol lainnya,  dan hal seperti ini cukup membuat hati ku kesal.

“itu dia” guman ku lalu menghampiri gundukan tanah dibawah pohon cemara, terlihat semut-semut hitam berlalu lalang dari batang pohon melewati akar lalu masuk kedalam sarang mereka. Aku duduk di dekat gundukan kecil itu, tanganku dengan hati-hati mengambil satu semut lalu ku masukan kedalam plastik kecil yang telah ku siapkan sejak tadi, sementara semut lain terlihat berlarian menghindar dari tangan ku, maaf semut, aku harus mengambil saudaramu karena senior-senior itu memaksa ku.

“Awas saja kalau acara ospek ini selesai, kusiram kalian dengan air comberan” hatiku mengeluh kesal.

Sebuah tangan memegang lengan ku, aku menoleh, terkejut dengan siapa yang sekarang ada di depanku. Haikal, dia pacarku di awal SMA, dan penampilannya juga tidak kalah norak dengan penampilan siswa lainnya, ia juga peserta ospek tahun itu.

“Ikut aku” Haikal menarik lengan ku meninggalkan semut-semut hitam dan gundukan kecil di bawah pohon cemara itu, aku tidak menolak dan memilih mengikuti Haris yang tidak melepas genggamannya di lenganku. Seperti ada yang mengalir dari tangan Haikal, menjalar melewati lenganku dan berhenti tepat di jantungku yang saat ini berdegup tak menentu, aku hawatir bunyi detak jantungku akan terdengar kalau saja suasana sekitar tidak seramai ini.

Haikal adalah dia yang mempesona dimataku, aku gugup. Beberapa pasang mata mulai memperhatikan aku dan Haikal, termasuk Maia, Ratih dan lely, sahabat-sahabat ku.
Haikal melepaskan lenganku tepat di depan dua senior dengan jas osis yang dikenakan mereka, mereka memperhatikan aku dan Haikal sambil sesekali menyungging senyum yang menyebalkan.

Aku mengenal mereka, mereka juga kakak kelasku saat SMP dan otomatis menjadi kakak kelasku saat SMA, tetapi juga punya kemungkinan menjadi teman kelasku kalau saja nanti tidak naik kelas. Sekarang aku mengerti mengapa Haris menarikku kemari, rupanya mereka sedang mengerjai kami, dan dua orang ini yang menyuruh haris melakukan ini.

Pasti kabarnya sudah terdengar ke seluruh warga sekolah dan komplek asrama mengenai hubunganku dengan Haikal, padahal hari ini masa pacaranku dengannya belum genap satu bulan. Haikal berlutut di depan ku, mengeluarkan setangkai bunga berwarna ungu dari tas plastiknya, bunga itu banyak tumbuh atau sengaja di tanam di halaman sekolah, baunya busuk. Ah, sial. Aku tidak suka dengan situasi ini, dan tampaknya Haikal juga begitu.

“Untuk mu” kata Haikal singkat sambil memberikan bunga itu kepadaku. Sepertinya pipiku bersemu merah, aku berusaha tersenyum walau sebenarnya aku sama gugupnya dengan laki-laki di depanku ini, aku tahu ini bukanlah adegan yang sengaja diciptakan Haikal untuk ku, bukan juga adegan romantis seperti yang ada di film-film, tetapi tetap saja hatiku meletup bahagia, kalau saja ini bukan tempat umum, aku pasti sudah berteriak dan melompat kegirangan.

Aku mengambil bunga berwarna ungu itu dari tangan Haikal. Sedetik kemudian Haikal berdiri disampingku, dan tidak tau harus berbuat apa, atau memang dia tidak mau berbuat apa-apa. Kulihat Haikal salah tingkah, akupun begitu, kami tersipu malu didepan para senior yang diam-diam dalam hati, ku ucapkan terimakasih pada mereka telah mempertemukanku dengan Haikal.

”Neyna!” seseorang meneriaki namaku. aku menoleh ke asal suara, seorang senior sudah berdiri dengan raut wajah yang dia buat seseram mungkin, aku menghampirinya tanpa rasa getir sedikitpun. aku tahu, ini tentang tugas mencari semut yang belum sempat ku selesaikan. Sial! Dengan terpaksa aku harus sabar mendengarkan omelan dan berbagai ancamannya yang bagiku tidak terdengar menakutkan, aku sudah terbiasa dengan orang seperti dia, ini semua hanya di buat-buat oleh mereka.

***

Lembaga pendidikan PURPOSE adalah sebuah lembaga swasta terpadu di salah satu kota di pulauku, menyediakan jenjang pendidikan mulai dari SD hingga SMA, disinilah aku tinggal selama 4 tahun terakhir ini. Pemiliknya adalah bapak Zaman, beliau adalah orang yang sangat disegani oleh masyarakat sekitar.

Ada 2 gedung asrama putri dan 2 gedung asrama putra yang dibatasi oleh gedung sekolah dan gedung Aula yang berjejer didepannya. Masing-masing gedug memiliki tiga lantai, dan rencananya akan di bangun satu lagi gedung asrama putri tahun ini. Di lantai dasar setiap gedung asrama memiliki dapur, terkadang kami masak walau lebih sering membeli makanan dari warung-warung yang ada di sekitar sini. Kukira singkatnya begitu mengenai tempat aku tinggal 5 tahun lalu.

Di salah satu kamar di komplek asrama putri, tepatnya di lantai dua gedung asrama, disinilah aku tinggal bersama tiga orang sahabatku. Setiap kamar terisi maksimal enam orang siswi, dan beruntungnya tahun ini kamarku hanya dihuni oleh empat orang termasuk aku.

Lely sedang asyik membaca novel romantis di atas ranjang nya, gadis mungil itu  suka membaca novel dan menonton drama korea. Ratih sibuk membuat ulang kartu pengenalnya yang basah gara-gara jatuh di selokan tadi sepulang dari sekolah, besok adalah hari terakhir MOS. Maia tengah duduk di lantai, bersembunyi di antara ranjang Lely dan ranjang nya sendiri.

Maia sedang menelepon seseorang, suaranya ia buat sepelan mungkin. Membawa handphone ke asrama adalah sebuah pelanggaran, dan siang tadi Maia menyeludupkan handphone yang dipinjamkan oleh Damar, pacar Maia sekaligus teman kami saat SMP.

Aku, Ratih dan Maia sudah 3 tahun tinggal di asrama dan sekolah ini, dan hanya sesekali pulang saat libur sekolah, jadi kami sudah saling mengenal satu sama lain dan mengerti betul mengenai kelebihan dan kekurang  masing-masing. Tiga tahun di sekolah ini membuat kami banyak tahu mengenai seluk beluk sekolah dan sistem yang berlaku di dalam nya.

Para senior itu sebenarnya tidak menyeramkan, hanya saja mereka memang di tuntut untuk menjadi tegas atau lebih tepatnya agar juniornya mau mengikuti setiap perintah mereka. Lely adalah siswi baru yang masuk asrama ini, lalu kebetulan bergabung di kamar ini untuk menggantikan Ana yang pindah ke sekolah lain, jadi wajar kalau ia masih terkesan menutup diri dan lebih memilih membaca novel untuk mengisi waktu kosongnya.

Aku terlentang sambil menatap langit-langit kamar, mengayun-ayunkan kakiku yang menggantung ditepi ranjang. Senyumku tersungging mengingat kejadian tadi siang. Haikal adalah orang yang bagiku misterius, kepribadian dan sikapnya yang tak bisa kumengerti bahkan sampai saat ini, dia lebih banyak diam menanggapi apapun, termasuk terhadapku.

Dalam hubungan kami, sepertinya aku lah yang banyak mendominasi. Aku gadis yang aktif dan energik, atau bisa juga dikatakan cerewet. Sementara Haikal sangat pendiam, sikapnya sukar sekali untuk ditebak, tetapi entah kenapa aku menyukai dia.

”Neyna, kamu diapain tadi sama senior?” Suara Ratih membuyarkan lamunan ku. Aku menoleh, tampaknya Ratih sudah selesai membuat kartu pengenal yang kemudian ia letakan diatas meja belajar. Ratih duduk di atas ranjang nya yang terletak disamping ranjangku, wajahnya juga terlihat kesal, ia kesal dengan lagak kakak senior yang seenak mereka menyuruh ini itu pada peserta MOS.

Aku juga begitu, aku geram dengan tingkah para senior itu, walau sebenarnya aku tadi sempat bersyukur, karena berkat mereka tadi siang aku bisa bertemu dengan Haris.
“Disuruh cari semut.” aku berhenti sejenak, wajahku cemberut. Aku duduk menyilangkan kaki di tepi ranjang, lalu menghadap Ratih yang ada di sampingku. “

kurang kerjaan banget kan Rat?  Maksud  mereka itu apa coba nyuruh aku cari-cari semut? Mau mereka pelihara terus budidayakan gitu?!” Omel ku yang disusul suara tawa dari Ratih. Lely mengintip dari balik buku, berdecak kesal. Suara tawa ratih yang menggelegar itu mengganggu konsentrasi membacanya, tapi sedetik kemudian ia melanjutkan kegiatan membacanya, tidak peduli dengan suara berisik kami yang tengah asyik bercerita tentang kejadian tadi siang, atau percakapan Maia dengan seseorang di ponsel nya yang terdengar menggelikan. Menggaggu saja.

”Hey… kalian! Kalian belum juga tidur, hah?! Sudah jam berapa ini?!” seketika suara tawa kami berhenti, Maia juga terpaksa menghentikan kegiatan menelpon nya.  Ibu Uti, penjaga sekaligus pengurus asrama sudah berdiri sambil berkacak pinggang di ambang pintu yang memang sejak tadi belum di kunci. Matanya melotot seakan mau menelan kami, ibu Uti memang terkenal galak dan disiplin, ia tidak segan-segan mengomeli siapa saja yang melanggar aturan di asrama.

“cepat tidur! Kalau ibu dengar suara ribut dari kamar ini lagi, ibu hukum kalian semua!” ibu Uti berjalan meninggalkan kamarku setelah menyelesaikan kalimat itu, suara bu Uti membuat kami berempat merinding.

“Baik bu.” Sahut ku pelan lalu cepat-cepat aku berlari ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Aku dan Ratih saling tatap, kami tersenyum lebar, barusaja bu Uti mengomeli kami seperti serigala malam yang sedang kelaparan. Aku lalu melompat ke tempat tidurku, menarik selimut. Maia dan Ratih juga melakukan hal yang sama, naik ke tempat tidur masing-masing lalu memejamkan mata.
Malam semakin larut. Ketiga sahabatku sudah tertidur, tetapi aku belum juga bisa terlelap. Mataku terpejam, tetapi otakku  masih memikirkan Haikal, sedang apa dia malam ini? Apa dia juga memikirkanku?.

***


Anda mungkin menyukai postingan ini